Juara Harapan 1

Sensitivitas dan Spesifitas Ultrasonografi pada Trauma Buli

 

Jumadi Santoso, Kuncoro Adi

Departemen Urologi, Rumah Sakit Hasan Sadikin/Fakultas Kedokteran

Universitas Padjadjaran Bandung

 Abstrak

Latar Belakang : Trauma saluran kencing terjadi pada 10 – 15 % trauma tumpul dan tusuk perut. 15% trauma panggul disertai dengan trauma buli atau uretra. Sistogram retrograd merupakan pemeriksaan standar untuk mendiagnosis ruptur buli dengan akurasi 95 – 100%. CT scan perut memiliki akurasi yang lebih rendah bila dibandingkan dengan sistogram retrograd dalam mendeteksi ruptur buli. CT scan perut hanya memiliki akurasi 50 – 60%. Bagaimanapun juga, sulit untuk melakukan sistogram retrograd atau CT scan perut pada pasien kritis, karena rata – rata waktu yang dibutuhkan lebih dari 30 menit. Lebih lagi pemeriksaan tersebut tidak dapat dilakukan langsung disamping pasien sehingga menyebabkan keterlambatan penanganan segera. Dengan penemuan probe USG berfrekuensi tinggi, pemeriksaan buli dan cairan bebas di pelvis dapat dilakukan dengan menggunakan USG dengan akurasi yang tinggi. Adanya cairan diperitoneum atau kegagalan untuk visualisasi buli setelah diisi dengan salin peruretra perlu dipikirkan kecurigaan adanya ruptur buli.

Tujuan : Untuk mengevaluasi sensitifitas dan spesifitas ultrasonografi dalam mendiagnosis trauma buli.

Metode : penelitian ini bersifat potong lintang yang dilakukan pada pasien di instalasi gawat darurat dengan kecurigaan trauma buli dan dilakukan pembedahan laparotomi eksplorasi. Pasien dengan kecurigaan trauma buli sebelumnya dilakukan pengisian buli secara retrograd dengan salin melalui kateter foley, yang kemudian dilakukan pemeriksaan ultrasonografi untuk melihat ada atau tidaknya distensi atau robekan buli. Pasien dengan trauma uretra tidak diikutsertakan. Hasil pemeriksaan ultrasonografi dibandingkan dengan temuan intraoperatif, analisis statistik dilakukan untuk penilaian sensitifitas, spesifitas, PPV dan NPV dengan menggunakan tabel 2×2.

Hasil : Tujuh belas pasien yang sesuai dengan kriteria inklusi didapat dalam periode 2010  – 2012. Rata – rata usia adalah 26,7 tahun, dengan 14 (82,3%) pasien adalah laki – laki dan 3 (21,4%) pasien adalah wanita. Terdapat 11 (64,7%) pasien dengan ruptur buli ekstraperitoneal dan 6 (35,2%) pasien dengan ruptur buli intraperitoneal. 9 (52,9%) pasien berhubungan dengan patah tulang panggul. Sensitifitas, spesifitas, positive predictive value, dan negative predictive value adalah 56,25%, 100%, 100% dan 12,5% secara berurutan.

Kesimpulan :  Pemeriksaan ultrasonografi bermanfaat dalam mendeteksi ruptur buli. Pemeriksaan ini cukup mudah, cepat dilakukan langsung disamping pasien kritis, dan tidak ada resiko radiasi serta resiko reaksi anafilaksis dari zat kontras pemeriksaan CT sistogram. Pemeriksaan ini memiliki nilai spesifitas dan positive predictive value yang sangat tinggi, namun memiliki sensitivitas yang rendah.

 

Kata Kunci : Ultrasonografi, ruptur buli, sensitivitas, spesifitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Official web Tritonaward PPDS